Pages

Senin, 19 September 2011

CATATAN HATI JUMARDI

CATATAN HATI JUMARDI
Lompatan Kepemimpinan ala nabi Sulaiman Oleh: Jumardi “Saya begitu optimistik bila Indonesia akan bangkit menjadi negara maju, apabila ditopang oleh para pemudanya yang kreatif, dinamis, dan berani melakukan lompatan kepemimpinan”. Begitu Deputi Pengembangan Kepemimpinan Pemuda, Drs. Sudrajat Rasyid, MM. dalam sambutannya tentang buku ini. Sebuah perkataan emosional beliau karena begitu yakinnya akan kemajuan bangsa Indonesia ini. Tentu saja dengan syarat yang beliau sebutkan di akhirnya, apabila ditopang oleh para pemudanya yang kreatif, dinamis, dan berani melakukan lompatan kepemimpinan. Kepemimpinan menjadi tumpuan bagaimana kita dapat menghadapi masa depan. Sebab kepemimpinan pada dasarnya merupakan naluri manusia untuk bertanggung jawab atas amanah kehidupan yang diberikan-Nya pada dirinya. Karena itu wajar jika Rasulullah pernah bersabda, “bahwa setiap kalian adalah pemimpin.” Kini, statement ini diamini oleh para guru leadership dunia, bahwa teori kepemimpinan terbaru adalah setiap manusia pada hakikatnya adalah pemimpin. Burt and Nanus dengan berani menyatakan bahwa pemimpin atau mereka yang siap menjadi pemimpin pada hakikatnya mereka tengah menuju manusia yang paripurna. Teori kepemimpinan muncul pertama kali pada akhir abad ke-19. Teori pertama yang menjadi persepsi umum adalah kepemimpinan itu merupakan takdir yang hanya diberikan pada mereka yang memiliki darah biru. Mereka inilah yang akan menjadi manusia-manusia besar (teori the great man). Namun seiring dengan perkembangan zaman dari abad ke abad, teori kepemimpinan datang silih berganti menegaskan teori-teori yang sebelumnya ditemukan. Dari munculnya teori the great man, teori sifat, teori kekuasaan dan pengaruh, teori prilaku, teori kepemimpinan situasional, teori kepemimpinan kharismatik, teori kepemimpinan transaksional, teori atribusi, hingga yang terakhir adalah teori kepemimpinan transformasional. Masing-masing teori ini memiliki umurnya sendiri-sendiri. Begitu teori baru muncul maka teori mutakhir sebelumnya berhenti digantikan oleh teori yang lebih baru. Perkembangan lain dalam kajian kepemimpinan adalah keragaman populasi yang dijadikan sebagai subjek penelitian. Secara signifikan populasi kajian tidak semata pada tokoh historis, melainkan juga merambah pada kalangan pengusaha, politisi, agamawan, dan lain-lain, baik penelitian dalam satu segmen maupun secara lintas sektoral. Keragaman populasi yang diteliti memunculkan teori baru dalam kajian kepemimpinan, di satu sisi dapat dilihat sebagai bentuk tesis dan antitesis dari teori sebelumnya, di sisi lain juga dapat dilihat sebagai bentuk keragaman yang satu sama lain saling melengkapi. Sayangnya, kajian mengenai tokoh pemimpin yang termaktub dalam teks-teks keagamaan belum banyak dilakukan. Padahal, dalam kitab-kitab suci agama terdapat tokoh historis yang diceritakan memiliki peran-peran kepemimpinan yang dapat dicontoh oleh umatnya. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya adalah para nabi dan rasul yang termaktub dalam Al-Quran. Nah, dalam buku ini, yang juga adalah hasil riset penulisnya semasa menjadi mahasiswa Angkatan Pertama beasiswa pascasarjana Universitas Indonesia dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, menawarkan model baru dalam upaya melejitkan kepemimpinan (lompatan kepemimpinan) dengan mencontoh pada model kepemimpinan kenabian (profetik), yaitu kepemimpinan nabi Sulaiman ‘alayhis-salam. Kepemimpinan nabi Sulaiman ini diformulasi dari model yang diungkap Al-Qur’an berupa kisah ke dalam konsep ilmiah yang relevan untuk diaplikaskan di era kontemporer ini. Dalam pengisahannya, Al-Qur’an lebih mengedepankan sisi hikmah (wisdom) yang relevan untuk menjawab tantangan di masa depan ketimbang membuat umatnya larut dalam romantisme sejarah masa lalu. Nanti dalam pembahasannya akan ditemukan berbagai relevansi pola yang dialami nabi Sulaiman dengan realitas global yang kita hadapi saat ini. Nabi Sulaiman hidup di masa salah satu puncak kejayaan peradaban Islam yang dilengkapi dengan berbagai kemajuan sains dan teknologi. Pada saat bersamaan, kepemimpinannya juga didukung oleh semua makhluk yang bertujuan untuk beribadah kepada sang Khaliq. Ketika ia mengalami ketegangan bilateral, ia dapat menyelesaikan persoalan internasional ini dengan smart power, smart politic, smart diplomacy, dan total diplomatic. Di samping itu, nabi Sulaiman pun didukung oleh tim posisi strategis, dan mereka terorganisasi dengan rapi. Mereka terkombinasikan dalam multi talenta dan koordinasi yang bagus. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang berpengetahuan yang terintegrasi pada keimanan yang kuat, serta jauh dari unsur mistik. Karena itu wajar bila kemudian kerja peradaban nabi Sulaiman dimudahkan untuk mencapai target dakwah secara sempurna. Dalam buku ini ada 21 rahasia keberhasilan kepemimpinan nabi Sulaiman yang disimpulkan oleh Rijalul Imam, penulis buku ini. Rahasia itu adalah karena nabi Sulaiman memliki tradisi Ilmiah yang kuat, tradisi berguru, kemampuan komunikasi Publik, Penguasaan bahasa asing (mengerti bahasa semut), Kepemilikan sumber daya strategis (tentara dari golongan jin yang taat dan orang-orang sholeh yang berilmu serta makhluk-makhluk lainnya), Kemampuan manajerial, tanggung jawab sosial, naturalis, bukan pencitraan, kedisiplinan dan ketegasan, loyalitas individu pada misi kerajaan, komunikasi dan mendengar aktif, tradisi verifikatif dan investigative, kemampuan administrative, musyawarah dan kolektifitas, menjunjung tinggi moral dan nilai-nilai spiritual (rabbaniyah), ketangguhan militer, kecerdasan mengambil keputusan strategis, staf/pembantu yang berbakat dan ahli, kretivitas, kemampuan diplomasi, dan kearifan ekologis. Membaca buku ini Anda akan tahu model kepemimpinan yang mana yang lebih cocok untuk membangun peradaban di Indonesia dan dunia. Untuk Anda sang pemimpin dan calon pemimpin masa depan, selamat membaca buku emas ini ! Jumardi Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau Kaderisasi FLP Pekanbaru

Kamis, 15 September 2011

Saat nya memasuki bulan berakhiran -ber, yang selalu teduh, iringan hujan yang di rindu tapi juga berkali-kali di keluhkan. Hey, september Tahukah kau, aku tak mampu ikut berlari beriringan dengan urutan angka, hari, minggu yang berderap terkadang lambat dan terkadang cepat berlari untuk menyambut bulan berakhiran -ber setelah mu. Hey, september Tahukah kau, ada janji janji dan list list yang masih sama yang aku lapalkan tak putus putus seperti bait doa doa yang tiap malam ku naik kan pada Nya. BER-harap aku mampu menepati nya tak seperti para penjual gombal gombal ulung dalam sangkarnya. Hey, september Maukah kau? sedikit saja hanya sedikit saja kau yang mengimbangi langkah ku, mengingatkan ku seperti alarm pada HP ku tiap subuh pagi, memperlambat langkah mu untuk melihat langkah ku agar tidak tertinggal, menarik dagu ku untuk terus melihat ke depan, mencium kedua mataku untuk tak terlalu lama terpejam dalam dunia khayal, menyentuh tubuhku untuk membakar kembali bara yang mulai padam. Hey, september Mari bersamaku, beriringan menuju tujuan kita masing masing tanpa harus meninggal kan satu sama lain.

Senin, 09 Mei 2011

jangan berhenti mengasah

Jangan Berhenti Mengasah Diri Oleh : Jumardi* [Image] [Image][Image]lkisah,ada seorang pemuda penebang pohon yang sangat kuat. Ketika melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan langsung mendapatkannya.Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik.Sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin. Hari pertama,penebang pohon itu berhasil merobohkan 18 batang pohon.Sang majikan sangat terkesan dan berkata,”Bagus,bekerjalah seperti itu! Sangat termotivasi oleh pujian majikan,pemuda itu bekerja lebih keras lagi.Tapi, di hari kedua dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon.Hari ketiga, dia kerahkan seluruh kemampuannya,tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit,”Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku,”pikirnya. Pemuda itu menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. “Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?”majikannya bertanya. Mengasah?Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak.Saya sangat sibuk mengapak pohon,”katanya. Orang bisa saja tersinggung dan marah bila diajak berhenti sejenak padahal sedang asyik bekerja. “Saya sibuk.” Dalam kata ini tersirat juga arogansi. Seolah tak ada yang lebih penting dari kesibukkannya tadi.Bagi mereka penganut paham kebendaan,menjeda kesibukan dengan zikir dan shalat adalah sesuatu yang merugikan.Padahal palu dan arit perlu batu asahan. Selebihnya adalah slogan tentang kerja tiada henti dan revolusi tak pernah mati. Bagaimana kondisi fisik dan psikis Anda jika hanya diisi kerja dan kerja.Kerja keras yang menyebabkan Anda merasa paling berhak hidup dengan modal yang sekecil-kecilnya,menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya.Denga slogan itulah kapitalisme mengibarkan bendera. Dan merasa paling berhak menguasi dunia. Komunisme yang mengabaikan Tuhan,telah runtuh karena terbang dengan sebelah sayapnya.Demikian pula kapitalis,oleng, karena menuhankan benda.Adapun hamba beriman selalu punya cara untuk mengisi berhenti jenaknya. “Shalat lima waktu,Jumat ke Jumat dab Ramadhan ke Ramadhan,menjadi kaffarat (cover,penutup,penggugur) dosa di antara waktu-waktu tersebut,apabila dosa-dosa besar telah diingatkan,”(HR.Ahmad,Muslim dan Tirmidzi). Ustadz Rahmat Abdullah dalam salah satu tulisannya mengingatkan, Berhenti untuk merenung sejenak, akan memberikan kekuatan baru menghadapi kehidupan yang keras dan membingungkan. Ada cara yang disarankan seorang intelektual muda, seorang sahabat, Muadz bin Jabal ra. “Ijlis bina nu’min sa’ah (duduklah bersama kami,kita perbarui iman sejenak),”(HR.Bukhari). Bahkan agar kita tidak terjebak pada rutinitas ibadah yang bersifat seremonial,al-Quran mengingatkan, “Hendaklah manusia memperhatikan,dari apakah dia diciptakan?”(QS.ath-Thaariq:5).Nazhar(pandang,lihat,perhatikan), yang kelak menjadi nalar,jelas kerja yang termasuk level tinggi dan bukan kegiatan biasa. Dunia adalah jembatan ,karenanya orang tak boleh berhenti dan berlama-lama di sana. Perumpamaan yang dibuat Rasulullah SAW.tentang dunia dan dirinya. “Di dunia ini aku hanyalah seperti seorang musafir yang berteduh dari kepanasan.Saatnya ia harus berangkat ….”Untuk musafir,tidak diisyaratkan harus miskin atau kaya.Jangan dipahami bahwa kitamenyepelekan dunia.Tapi justru isyarat untuk melengkapi bekal dalam urusan dunia. Imam Ali bin Abi Thalib ra berpesan, “Ketahuilah,hari ini adalah hari midhmar(mendiet kuda pacuan agar kuat dan ringan) dan esok adalah sibaq (hari berpacu).Bersiaplah di hari midhmar kamu untuk hari sibaq kamu. Ketahuilah,sesungguhnya barang siapa yang lamban amalnya, tak akan menjadi cepat oleh nasabnya (leluhur,koneksinya).” Di kalangan musafir atau pengelana dikenal empat syarat bagi orang yang akan melakukannya.Keempat syarat itu mencakup : Fisik,Mental,Ilmu dan peralatan.Keempatnya harus ada. Tak ada yang lebih penting,semuanya penting. Dan keempatnya harus dijaga sebagai bekal.Bahkan umat Islam diperingatkan agar tidak meninggalkan jejak berupa generasi yang buruk.Yang lemah alias tidak mempunyai bekal untuk meneruskan perjalanan peradabannya. Merenung sejenak diperlukan untuk mengecas energi sekaligus membangun harapan. Jadi memang,perlu ‘berhenti sejenak’ mencocokan arah kompas, mengukur peta,dan memeriksa bekal perjalanan.Di depan,jalan memebentang panjang,dari belakang kita bisa belajar.Ada musafir yang maghdub ‘alaihim (dimurkai),karena sengaja menyimpang dari jalan kebenaran. Ada yang dhaalliin (sesat),karena berjalan tanpa tahu arah.Berbahagialah mereka yang menempuh jalan lurus (shirat al-mustaqim),bersama orang-orang yang Dia beri nikmat;para Nabi,kaum shiddiqin (jujr,benar),syuhada dan shalihin (QS.al-Fatihah,an-Nisaa:69). Seringkali kita terjebak pada rutinitas dan tanpa sadar telah menjadi robot.Seorang guru/dosen lupa belajar,mahasiwa lupa berikhtiar,penulis berhenti membaca dan dokter mengabaikan kesehatan.Akhirnya mereka menjadi tumpul dan bencana menimpa mereka. Jadi siapapun Anda,jangan lupa mengasah diri. Allahummaj’alna minalladziina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin. *Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits Koor.PPSDM al-Fata al-Muntazhar Staf kaderisasi KAMMI Komisariat UIN Riau

Kamis, 24 Februari 2011

Senja Kami dulu

Hari hampir senja
Aku akan pulang dari bermain
Teman-temanku juga pulang

Hari hampir senja
Para orang tua pasti mencari kami
Menyuruh kami cepat mandi dan pergi ke Surau
Untuk shalat maghrib dan pergi mengaji

Hari hampir senja
Siapa yang terlambat pulang
Rotan-rotan telah terpegang erat
Di tangan kanan yang siap mengeksekusi
Di depan pintu sudah menunggu

Hari hampir senja
Adalah batas terakhir kami bermain
Walau permainan masih mengayikkan
Kami wajib berhenti dan harus pulang

Hari sudah senja
Kami sudah berkumpul di Surau
Ke sumur belakang kami mengambil wudu
Mengamal ilmu yang sudah diajar
Kami terus harus belajar
Kini kami mengumandangkan azan

Senja sudah hilang
Kami sibuk mengeja alifan
Alif di atas a ba di atas ba ta di atas ta, abata

Malam
Jengkrik, kodok, saling bersahutan


Jumardi
Mengingat masa kecil, menyindir masa sekarang

Rabu, 16 Juni 2010

Allah Ghayatuna, menuntut ilmu dengan ikhlas
Oleh : Jumardi*

Wahai anak dengarlah madah
Menuntut ilmu janganlah lengah
Supaya kelak hidup tak susah
Kepada Allah mohonkan berkah

Wahai anak kekasih ayah
Cari olehmu ilmu berfaedah
Supaya jua tidak semenggah
Kepada Allah engkau berserah

Wahai ananda cahaya mata
Ilmu dituntut menjadi pelita
Supaya menjauh gelap gulita
Supaya kelak hidupmu bahagia

Begitulah Tenas Effendi mengajarkan kita dalam tunjuk ajar melayu. Mengajarkan bagaimana mencintai ilmu pengetahuan. Maka dengarlah madah, ia ingin memberi tahumu agar jangan lengah menuntut ilmu. “Menuntutlah, bukan mengoleksi ilmu”, kata K.H Rahmat Abdullah, melainkan kau harus pandai menjadikan amal, agar kelak hidupmu tidak sia-sia dengan menjadi susah. Kejarlah Allah, niscaya Allah akan mengejarmu lebih kencang lagi dari kejaranmu. Itulah tujuanmu, tempatmu memohon pertolongan dan berkah. Allah Ghayatuna adalah inti dari jerih payahmu hingga kau bermandi peluh menggapainya.
Wahai anak kekasih ayah, Ilmu Allah bertebaran di muka bumi ini. Tak mungkin sanggup engkau menggapainya ataupun sekedar menemukan semuanya. Apalagi nafsu di dirimu dengan ditambah musuh nyata yang berada di samping kanan dan kirimu, belakang dan depanmu, serta mengintip di bawah setiap langkah amalmu. Dialah Iblis musuh nyatamu, yang dinyatakan Allah dalam kitab pedomanmu, juga wasiat yang kau pegang dari Rasulmu, nabi Muhammad saw. Musuhmu itu akan selalu dekat dan mendekat denganmu sedekat desiran aliran darahmu. Maka dari itu, kepandaian memilih dalam pencarian merupakan sebuah keniscayaan bagimu. Ilmu dengan kepahaman dan landasan iman. Karena dengan kekhilafan yang telah membaku dalam dirimu memungkinkan engkau akan tersesat di tengah pencarianmu itu. Maka berhati-hatilah, carilah yang sesuai dengan hati nuranimu dengan tetap memohon kepada pembuat nuranimu. Ilmu yang bermanfaat atau berfaedah sungguh mudah ditemukan, tapi pemanfaatan dari manfaat itulah yang menjadi pembelok tujuanmu. Maka camkanlah kalimat ini “ Allah Ghayatuna”, Allahlah tujuan kita. Apapun amalnya.
Engkau pasti ingin hidup di akhirmu menjadi kehidupan yang membuat gigi geraham menaik, bibir terbuka, dan mulutmu menganga. Tapi tidak untuk waktu lama dan tidak semuanya, cukup kau menyunggingkan senyum kala itu. Senyuman yang menentramkan batinmu dari segala pencarian yang lelah kau lalui. Mungkin kau akan teringat gelapnya hutan-hutan rimba yang menyelimuti langkah. Kau mengharapkan pelita hatimu menyala dengan abadi, sehingga kau bisa tersenyum, berpadu pada tujuanmu, Allah ghayatuna.
Tapi kau juga jangan lupa, dan terus harus kau ingat bahwa senyum mu bukanlah akhir dari pencarianmu, dan kau mesti mencari lagi sampai pencarianmu lelah mencari tujuannya, sehingga kau dengan leluasa menunjuk tujuan mana yang kau inginkan, maka itu camkan kata-katamu bahwa Allah ghayatuna.
Engkau menyerahkan segalanya pada-Nya. Lelahmu, keluhmu, kesahmu, resahmu, peluhmu, demam mu, senyum mu, tawamu, dan jangan galakmu. Harta tidaklah memberatkan bagimu untuk kau korbankan dalam pencarianmu. Namun nampaknya kau sedikit enggan melepas jiwamu, karena nafsumu mengatakan “ kau tidak akan bisa lagi tersenyum jika kau lakukan itu, kau mati, tak berdaya membuka mulutmu untuk menampakkan gerahammu, bahkan serimu” . Tapi sebentar saja setelah itu, kau dapat mengalahkannya karena kau tahu orang yang terbunuh di jalan Allah itu tidaklah mati. Sehingga kau masih bisa tersenyum dan menyerahkan pencarianmu pada-Nya walaupun kau sudah menemukannya, tidak mencarinya lagi. Allah Ghayatuna, kau teringat itu.
Wahai ananda cahaya mata. Setelah kau benar-benar mantap dalam tujuanmu, ternyata budak-budak jahil itu tidak senang padamu. Dia mulai memasang perangkap yang lain, dia ingin membuat gelap pandanganmu, pandangan hatimu ( bashirah ). Entah berapa kali perangkap itu diperuntukkannya untukmu, namun, kau tetap teguh dalam pendirianmu, karena kau sudah tahu, kau sudah menemukannya, Allah ghayatuna, sehingga menguatkan keyakinanmu bahwa Allah memiliki cahaya yang tidak bisa dipadamkan oleh siapapun, termasuk budak-budak jahil itu. Karena Allah menghendakimu. Budak-budak jahil itu kalah lagi denganmu. Semua itu berkat ketulusanmu pada “Allah ghayatuna”.
Sekarang aku meyakini bahwa kau bebas dari tidak bisa tersenyum. Tersenyumlah sesukamu, kapan dan dimanapun kau mau. Karena kau belajar ilmu dengan ikhlas, hanya karena Rabb mu yang menjadikan kau bisa tersenyum tulus keimanan.
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan
( QS. Al-Mujadilah : 11)
Aku bahagia dan tersenyum melihat derajatmu terangkat. Diangkat oleh yang maha tinggi pangakatnya. Allah Ghayatuna.

*jumardi
Ketua umum al-Fata al-Muntazhar
Fakultas Ushuluddin UIN SUSKA Riau

Harapan buat bulletin fata:
Allahamdulillah , rasa syukur tak terkira bisa membaca sendiri bulletin yang dibuat langsung oleh al-Fata al-Muntazhar ini. Banyak sekali hal yang mesti kita tuangkan dalam bentuk tulisan, tidak sibuk dengan suara lantang namun tak terkesan. Mudah-mudahan, walaupun ini hanyalah kerja-kerja kecil menurut yang tak memahami arti sebuah ketulusan kecil. Namun, saya yakin kerja-kerja kecil yang tulus inilah yang lebih disukai oleh Allah, dengan sarat berkelanjutan. Salut dengan al-Fata al-Muntazhar!!, semoga eksis kecil abadi menjadi kesuksesan yang besar. Keep your istiqamah, keep on jihad.Amin
Hantu Kampus

Oleh: Jumardi


Siapa yang bertanggung jawab jika citra baik kampus ternodai?, apa yang mesti ditindaklanjuti jika sudah nyata siapa yang menodai?
Banyak cara—sebagaimana yang kita ketahui—oleh orang-orang yang berkeinginan dengan nafsunya, bisa kita bayangkan kalau dua keinginan bergabung menjadi satu—keinginan emosional dan nafsu dari keinginan emosional itu sendiri—tentulah akan menjadi parah jika diperkeruh oleh tergabungnya antara keinginan dengan nafsunya dengan keinginan dengan nafsu yang sama.
Inilah hantu kampus yang dikamsud, ketergabungan hawa nafsu yang tidak terkontrol, yang terorganisir secara sistematis, yang ironinya diperankan oleh orang yang kalah dalam pengontrolannya itu. Jadinya adalah, menjadi hantu, karena ia berdiam di kampus makanya menjadi hantu kampus.
Hantu kampus sangat ditakuti oleh orang yang menanam bibit keimanan yang sedikit, penjagaan yang minim, sehingga ia tumbuh sedikit dan yang sedikit itupun menjadi layu, sehingga tidak bisa dimanfaatkan untuk kebaikan, sehingga daripada tidak berguna dimanfaatkanlah untuk kebalikannya, kerusakan dan ulat-ulat penghancur. Tetapi, ia tidak mau dilecehkan dan diremehkan, maka ia berkeingginan menjadi super kejahatan, dan ia berkesimpulan bahwa super kejahatan itu adalah hantu, karena ia berdiam di kampus maka ia disebut hantu kampus.
Tapi hantu hanyalah hantu, oleh orang yang menanam bibit keimanan yang unggul dan banyak, penjagaan yang ketat, sehingga ia tumbuh lebih berkualitas, hantu hanyalah hantu, pupuk bagi mereka untuk menyuburkan tanamannya, maka ia diridhai dan di sukai banyak pembeli. Tanamanan yang unggul pastilah banyak memberikan manfaat dan bisa mengalahkan yang layu, sehingga yang unggul dan baik selalu dicari-cari dan yang layu, walaupun tetap dingat, tapi tetap menjadi pelecehan orang, sehingga semakin bertambah terkenal ia, maka semakin banyak pelecehan untuknya.
Tanaman yang unggul inilah yang menjadi malaikat, karena malaikat selalu unggul, karena ia diam di kampus, maka ia disebut malaikat kampus.
Karena hantu dan malaikat berdiam di tempat yang sama, yang satu tidak mau kalah, yang satunya selalu mengalahkan. Mereka akan tetap bertarung, walau yang kalah terus kalah, yang menang teus menang[]

Entri Populer